Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Keluarga Mahasiswa Sosiologi
  • Tentang Sosiologi
  • Portal Akademik
  • PPSMB
    • PPSMB Palapa
    • PPSMB Sosiologi
  • Periode Kepengurusan
    • Periode 2019-2020
    • Periode 2016-2017
      • Periode 2015-2016
      • Periode 2014/2015
      • Periode 2013/2014
      • Periode 2012/2013
      • Periode 2011/2012
      • Periode 2010/2011
      • Periode 2009/2010
  • Divisi
    • Hubungan Masyarakat dan Advokasi
    • Pengembangan Keilmuan
    • Media dan Informasi
    • Pengabdian Masyarakat
    • Sport and Traveling
    • Kewirausahaan
    • Pengembangan Sumber Daya Manusia
    • Logistik dan Operasional
    • Kesenian dan Kebudayaan
  • Home
  • SSS

SSS #2: Resensi Film Silenced: Kritik Terhadap Kekerasan Seksual di Sekolah

  • SSS
  • 8 September 2021, 14.24
  • By : kms-sosiologi.fisipol

Sutradara: Hwang Dong-hyuk

Produser: Uhm Yong-hun, Bae Jeong Min, Na Byung-joon

Penulis Skenario: Hwang Dong-hyuk

Pemain: Gong Yoo, Jung Yu-mi, Kim Hyun-soo, Jung In-seo, Baek Seung-hwan

Produksi: CJ Entertainment

Durasi: 125 menit

Silenced merupakan film garapan Hwang Dong-hyuk yang menceritakan tentang kisah anak-anak penyandang disabilitas yang mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual di sekolah. Film ini diadopsi dari novel best-seller berjudul The Crucible (Dogani) karya Gong Ji-young yang juga mengangkat kisah nyata yang terjadi di Gwangju Inhwa School, sekolah khusus untuk tuna daksa dan tuna rungu. Film yang ditayangkan pada 2011 ini mendapatkan tanggapan yang positif di masyarakat karena alur ceritanya yang menuai empati dan emosi.

Film ini bermula dari perjalanan Kang In-ho menuju daerah Mujin. Ia ditugasi menjadi guru seni untuk mengajar anak-anak tuna rungu di sekolah luar biasa. Dalam perjalanan menuju Mujin, mobil Kang In-ho tidak sengaja menabrak seekor rusa yang sedang melintasi jalan. Kemudian scene film ini berpindah menampilkan seorang anak kecil yang tiba-tiba tertabrak kereta. Tidak lama setelah itu Kang In-ho juga terlibat kecelakaan kecil dengan Seo Yoo-jin, seorang aktivis HAM yang kebetulan sedang mabuk. Nantinya Seo Yoo-jin ini akan menjadi partner Kang In-ho dalam menangani kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami oleh anak-anak penyandang disabilitas.

Selama mengajar, Kang In-ho merasakan banyak hal janggal yang terjadi di sekolah. In-ho sempat dimintai uang sebesar 50 juta won oleh kepala admin sekolah dengan dalih untuk dana sumbangan pengembangan. Kemudian anak-anak juga terlihat dingin, murung, dan tidak bersemangat ketika belajar. Kejanggalan pun terus terjadi, hingga Kang In-ho mendapati salah satu siswa, Min-soo yang dihajar habis-habisan oleh seorang guru. Mirisnya, guru lain yang juga  menyaksikan kejadian ini tidak mencoba melerai dan tidak peduli sedikitpun. Tidak hanya itu, penanggungjawab asrama sekolah pun juga pernah menganiaya siswanya dengan memasukkan kepala siswa ke dalam mesin cuci yang bergerak hingga pingsan.

Akhirnya Kang In-ho melaporkan kasus kekerasan ini kepada polisi. Namun, kasus ini tidak ditindak lanjuti secara tegas, polisi malah mengembalikan kasus ini ke pihak sekolah. Rupanya pihak sekolah telah menyuap polisi untuk tidak ikut campur dalam masalah sekolah. Kang In-ho yang merasa kecewa pun terus berupaya untuk memperjuangkan keadilan bagi anak-anak difabel tersebut. Kang In-ho dengan bantuan Seo Yoo-jin berinisiatif untuk membuat video bukti yang berisi kesaksian anak-anak mengenai kekerasan yang mereka alami di sekolah. Anak-anak mengungkapkan bahwa mereka pernah dilecehkan oleh kepala sekolah, kepala admin dan guru. Kemudian rekaman tersebut disiarkan oleh TV swasta dan kasus ini dibawa ke jalur hukum.

Melalui film ini kita akan menyaksikan proses pengadilan yang sesuai dengan pepatah “hukum tumpul di atas dan tajam di dalam”. Rupanya pihak sekolah memberikan kesaksian palsu dengan dukungan penjaga sekolah hingga dokter spesialis kandungan. Pihak sekolah juga menekan keluarga korban untuk menghentikan proses hukum dan berdamai. Pihak sekolah memanfaatkan kondisi keluarga korban yang miskin dengan diiming-imingi sejumlah uang untuk memaafkan terdakwa. Hukum yang dianggap berat sebelah ini tidak memadamkan semangat Kang In-ho dan Seo Yoo-jin untuk terus menuntut keadilan. Persidangan pun digelar berkali-kali, namun hasilnya tampak tidak memuaskan meskipun telah dilampiri oleh bukti-bukti yang valid. Hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa dianggap tidak sebanding dengan kejahatan yang dilakukan.

Tentunya film ini memiliki makna yang begitu mendalam mengenai keadilan . Film ini sukses mengkritik tatanan hukum yang cenderung berpihak hanya pada kalangan tertentu saja. Alur cerita dan penjiwaan tokoh yang apik mampu menguras emosi penonton mulai dari rasa sedih, miris, hingga marah. Saking detailnya adegan yang ditampilkan, film ini mengambil durasi yang panjang sehingga terkesan cukup melelahkan.

Meskipun isunya cukup sensitif, film Silenced ini sangat layak untuk ditonton. Film ini sangat disarankan untuk ditonton oleh kalangan dewasa karena menampilkan beberapa adegan kekerasan. Banyak pesan dan nilai berharga yang dapat diambil melalui film ini. Sebaiknya hukum dapat dijadikan instrumen untuk menegakkan keadilan. Hakikatnya hukum itu bersifat universal dimana akan menghadirkan kemakmuran dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Bukannya semakin menyulitkan masyarakat khususnya masyarakat kelas bawah dan memakmurkan para elite penguasa. Seluruh pihak harus mendapat perlakuan yang sama dimata hukum

 

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

KMS dan Pemuda Maknorejo Mendiskusikan Finalisasi Produk Olahan Budidaya Lele dalam PPDB 2021

Uncategorized Friday, 19 November 2021

Sudah sejak bulan Agustus 2021 mengabdi di Dusun Maknorejo, Pakem, Sleman, sekelompok mahasiswa sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Sosiologi (KMS) bersama dengan pemuda setempat mengembangkan prototipe produk olahan lele yang […].

SOCIOZINE #3: Isu Lingkungan

SOCIOZINE Tuesday, 23 March 2021

Zine #3 ini mengambil tema besar berdasarkan apa yang sedang banyak diresahkan oleh masyarakat saat ini. Isu lingkungan, dilihat dari berbagai aspek sosial yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia.

Transformasi Radikal Sosiologi

Uncategorized Thursday, 21 September 2017

Transformasi Radikal Sosiologi (Agung Kresna Bayu) Sosiologi merupakan sebuah kata yang memiliki beragam arti dan penafsiran, sebab sosiologi merupakan bahasan yang diskursus. Saat muncul pertanyaaan apa itu sosiologi, maka secara spontan kita akan berpikir bahwa […].

Wawancara Alumni #1

Uncategorized Friday, 7 July 2017

Dalam wawancara alumni yang pertama, rekan-rekan humed mewawancarai salah satu dosen di program studi sosiologi yaitu mba Wahyu Kustiningsih. Berikut ini adalah hasil wawancara dari rekan-rekan humed dengan mba wahyu.
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada