admin


11222

Socio Tempoe Doloe #2 adalah sebuah acara persembahan terkahir  dari divisi Sport and Travelling sebelum tutup buku kepengurusan KMS AMELIORASI. Diadakan pada tanggal 15 Oktober 2016, Socio Tempoe Doloe #2 atau yang disingkat menjadi STD#2 ini merupakan acara untuk internal yang diikuti oleh 3 angkatan aktif Sosiologi UGM (2014,2015,2016). Mengambil tempat di lapangan Softball Lembah UGM acara ini berlangsung dari pukul 8 Pagi sampai 1 siang. Mau tau keseruannya seperti apa ? yuk mari merapat dan baca hingga selesai FR STD#2 ini. read more

[Field Report] Socio Tempoe Doloe #2


Tanggal 24 – 25 September 2016, salah satu program kerja dari KMS yang didedikasikan untuk Mahasiswa Sosiologi 2016 yang dinamakan Family Outing telah berhasil dilaksanakan. Mengambil tempat di Wisma Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di kawasan wisata Kaliurang, Family Outing (FO)  merupakan konsep terbaru dari malam keakraban yang sempat dilakukan pada tahun – tahun sebelumnya. Harapan mengusung konsep keluarga, nantinya mahasiswa Sosiologi 2016 menjadi bagian dalam keluarga besar Mahasiswa Sosiologi S1 Sosiologi Universitas Gadjah Mada. read more

[Field Report] Family Outside Sosiologi 2016


buruh Pertama-tama, kami sampaikan solidaritas kepada gerakan buruh yang melakukan aksi pada Mayday pada 1 Mei 2016 ini. Perjalanan panjang perjuangan demi kesejahteraan tidak pernah selesai, karena kapitalisme pun terus memperbarui dan memperbanyak dirinya melalui politik. Kedua, kami sampaikan pula solidaritas kepada para Tendik, pedagang Bonbin, dan mahasiswa yang melakukan aksi gabungan pada tanggal 2 Mei 2016. Ketidakadilan tidak bisa dihadapi dengan diam. Segala niat baik demi pengejawantahan ide kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan kerakyatan di kampus yang mengatasnamakan dirinya sendiri sebagai Universitas Pancasila dan Kerakyatan pastilah dapat menghasilkan dampak yang baik pula. Kami khawatir, kewarasan pada lingkungan akademik ini sedang sekarat karena pragmatisme kampus sendiri dalam transformasinya menjadi sebuah usaha bisnis pencari kapital.          Bentuk-bentuk gerakan masyarakat sipil, seperti yang dilakukan buruh adalah respon terhadap penghisapan oleh kapitalisme. Negara-negara di Asia termasuk dalam negara yang menggunakan model eksklusif untuk mengakomodasi ralasi antara negara dan kapital (Savirani, TT). Indonesia bersama negara Asia lainnya termasuk dalam wilayah yang perkembangan industrinya terlambat dibandingkan negara di Eropa. Perkembangan industri harus digerakkan oleh negara (state-led development).          Sebagai negara pembangunan, maka pemerintah Indonesia atas nama negara memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar untuk mengintervensi proses pembangunan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik. Demi mencapai pertumbuhan ekonomi itulah, Indonesia berorientasi menjadi negara ramah investasi dengan menekan cost dari proses produksinya. Salah satu faktor utama produksi yang ditekan adalah upah buruh.         Orde Baru jelas-jelas menerapkan model negara-perusahaan dengan orientasi pertumbuhan ekonomi tersebut (Beeson, M., & Hadiz, V., 1998). Buruh beserta gerakannya dikontrol dengan kuat melalui satu-satunya serikat buruh yang ada, yaitu Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Ruang gerak buruh menjadi sangat sempit. Visi untuk menjadi negara maju yang dibawa oleh Soeharto berhasil membungkam gerakan buruh dan membuatnya tunduk pada para penguasa kapital. Juliawan (2011) menemukan ada tiga karakter dari gerakan perjuangan buruh pasca reformasi ini. Pertama, protes sosial sebagai metode aksi buruh sudah menjadi hal umum dalam kehidupan berdemokrasi dewasa ini. Aksi tersebut bertujuan untuk mengintervensi atau mempengaruhi proses pembuatan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Intervensi tersebut pernah berbuah manis dengan kesuksesan yang mereka capai.       Kedua, kebiasaan protes ini terjadi dengan frekuensi yang tinggi, dan dengan peserta aksi yang inklusif. Dalam menyuarakan aspirasinya, gerakan buruh menggunakan berbagai cara untuk membangkitkans kesadaran kolektif masyarakat untuk dapat menekan pemerintah. Gerakan tersebut memiliki ujung yang sama, yaitu merebut ruang publik, yang secara harfiah sebagai ruang fisik maupun ruang wacana melalui media massa dll.     Ketiga, pengorganisasian massa adalah solusi terhadap kelambanan dan kebebalan pemerintah yang tidak memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan kaum pekerja. Namun, gerakan ini masih lemah dalam pengorganisasiannya. Gerakan buruh rentan perpecahan karena massa yang banyak harus disatukan dalam satu komitmen bersama. Terlebih lagi, saat buruh menghadapi tantangan dalam menjalankan komunikasinya dengan pihak industri dan pemerintah dalam menegosiasi kepentingan mereka, gerakan tersebut rentan direcoki kepentingan pribadi. Gerakan rentan digembosi oleh suap, tukar-menukar kepentingan pemimpin gerakan buruh dengan pemilik modal.        Sayang, dinamika gerakan buruh tersebut tidak selalu ditemui karena gerakan buruh pada permulaannya tidak pernah ada dan bahkan tidak dirasa penting oleh buruh itu sendiri. Pada riset yang dilakukan oleh KOMAP dan KMS, kami menemukan gejala-gejala tersebut. Tanpa adanya serikat buruh, tidak ada aktor pendamping bagi buruh untuk memperjuangkan hak-haknya. Padahal, negara membuka seluas-luasnya bagi buruh untuk berserikat. Ketertundukkan para buruh terhadap perusahaan yang semena-mena membuka peluang yang lebih besar untuk muncul penindasan-penindasan lain. Pemerintah pun diam saja menghadapi ketertindasan buruh tersebut.      Dalam peringatan Hari Buruh tahun ini, mari membahas buruh, gerakan buruh, dan buruh wanita lebih mendalam dengan mengikuti diskusi Pemaparan Hasil Riset Gabungan antara KOMAP dan KMS di Selasar Timur Fisipol pada tanggal 3 Mei 2016 pukul 09.00 WIB. Sorenya, mari suarakan aksimu di Panggung Aksi Mayday di Taman San Siro Fisipol mulai pukul 15.30. Tertanda, KOMAP x KMS

Pengantar Diskusi “Gemuruh Buruh” KOMAP & KMS 3 Mei 2016



Perempuan itu harus pandai memasak!

Perempuan itu harus bisa bersih-bersih rumah!

Perempuan itu harus bisa jahit!

Perempuan itu harus bisa dandan!

Tentu kita masih sering mendengar kalimat-kalimat semacam itu, khususnya orang-orang Jawa yang adat dan budayanya masih sangat kental dan terjaga. Namun hal tersebut terdengar ganjil di telinga saat mengingat sosok Kartini yang di agung-agungkan sebagai seorang pahlawan emansipasi wanita. Karena rasanya perjuangan Kartini hanya sebatas membantu kaum perempuan untuk dapat mengenyam pendidikan lebih baik. Diluar itu, beliau tidak membebaskan kaum perempuan dari stigma masyarakat bahwa wanita tidak harus pandai di bidang-bidang yang sifatnya femim. read more

Kartini Masa Kini : Merdeka dalam Penjara


1sa

Sabtu, 16 April 2016

Dua minggu sudah seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada menghadapi  Ujian Tengah Semester. Berbagai macam tugas dan soal sudah berhasil dikerjakan dengan kemampuan “Semampunya”. Untuk menawarkan dampak UTS yang mengakibatkan mahasiswa menjadi tegang dan stress ringan, maka Divisi Sport and Travelling KMS UGM mengadakan kegiatan bersifat futsal yang dikemas dengan nama SOCIOLEAGUE. Acara yang sudah dilaksanakan selama 5 tahun berturut – turut ini memang di khususkan untuk Civitas Akademik Departemen S1 Sosiologi UGM. Mau tau keseruan yang terjadi di Lapangan Futsal Jakal 7 pada hari itu ? Yuk merapat kita saksikan Field Reportnya read more

[Field Report] Socioleague ke 5


Udayana

Yogyakarta, Senin 11 April 2016

Masih dalam pekan Ujian Tengah Semester yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Keluarga Mahasiswa Sosiologi sebagai HMJ dari departement Sosiologi UGM menerima kunjungan dari teman – teman Ikatan Mahasiswa Sosiologi Universitas Udayana dalam rangka untuk menjalin silahturahmi dan saling berbagi pengalaman dalam keorganisasian HMJ dan juga seputar kehidupan sehari – hari sebagai seorang mahasiswa Sosiologi. read more

[Field Report] Kunjungan dari Ikatan Mahasiswa Sosiologi Universitas Udayana



Leadership camp yang merupakan program kerja sama dari divisi pengembangan sumber daya manusia dengan divisi perlengkapan akhirnya dapat terlaksana dengan lancar tanpa adanya halangan. Bertempat disalah satu hutan purba yang dijadikan sebagai kawasan wisata Taman Hutan Raya Bunder, berlokasi di kawasan Gunung Kidul. Kegiatan Leadership camp yang mengambil lokasi di kawasan hutan ini sendiri memberikan suasana yang baru bagi para peserta. Acara ini berlangsung dari tanggal 18 – 19 Maret 2016, dengan rangkaian acara yang telah disusun sesuai dengan kebutuhan leadership camp diharapkan peserta yang telah mengikuti acara ini dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan tentunya memupuk rasa persaudaraan antar sesama pengurus KMS. read more

[Field Report] Leadership Camp Keluarga Mahasiswa Sosiologi


178987

Akhirnya acara Kulo Nuwun Party atau yang disingkat dengan KNP dengan tema Cinta Menuju Harmoni  telah sukses dilaksanakan. Acara yang digelar di Pawon Sawah Resto yang berada dalam kompleks Warung Kuliner Pringwulung ini berjalan dengan lancar tanpa ada satu halangan apapun. Hujan yang sempat mengguyur wilayah tersebut siang hari, ternyata tidak terjadi di malam harinya atau pada saat acara di mulai. Kegiatan yang menjadi culture di FISIPOL UGM ini untuk tahun ini berada di bawah program kerja dari Divisi Kesenian dan Kebudayaan KMS dengan penanggung jawab acara adalah Ervino Cahya (Sosiologi 2015). Mau tau keseruan di KNP Yuk ikuti Field Report yang satu ini. read more

[Field Report] Kulo Nuwun Party (persembahan angkatan 2015)


Kamis, 25 Februari 2016

48420

Keluarga Mahasiswa Sosiologi (KMS) bekerja sama dengan Jaringan Mahasiswa Sosiologi se-Jawa (JMSJ) mengadakan diskusi bulanan yang mengangkat isu LGBT. Diskusi dengan tema “Pelangi di Matamu : Melihat legalisasi praktek LGBT dari sudut pandang sosiologi keluarga” berlangsung di selasar gedung BC Fisipol UGM dengan jumlah peserta yang hadir lebih dari 50 orang. read more

[Field Report] Diskusi Bulanan JMSJ



BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar belakang

            Indonesia akhir-akhir ini sedang dilanda berbagai masalah.Baik masalah internal maupun eksternal.Dari dalam negeri, terjadi korupsi oleh anak bangsa sendiri yang hanya memikirkan diri sendiri.Kemudian konflik antar kelompok yang berlatar belakang agama, ras, dan suku.Ditambah lagi adanya beberapa daerah yang menyatakan untuk memisahkan diri dengan Republik Indonesia.

Ancaman luar pun datang dalam segala bentuk.Dari globalisasi yang tak bisa terhindarkan hingga ancaman kapitalisme yang “dikutuk” oleh presiden pertama Indonesia, Sukarno.Belum lagi ditambah dengan banyaknya kebudayaan baru yang mencoba memasuki Indonesia. Seperti budaya barat (westernisasi), Jpop (Japanesse pop), Kpop (Korean pop), dan lain-lain read more

Mencoba Bangkit dari Keterpurukan